Kurt Gerstein adalah adalah seorang ahli kimia yang direkrut SS Nazi untuk ditugaskan menangani sanitasi air minum bagi tentara Jerman selama perang. Gerstein mengembangkan penemuan gas Zyklon-B yang pada mulanya digunakan untuk membasmi kuman penyakit yang ternyata kemudian digunakan SS untuk membasmi warga Yahudi di kamp-kamp konsentrasi. Fakta itu membuat Gerstein berniat melaporkannya kepada Paus di Vatikan dan mempublikasikan pada dunia tentang kekejaman Nazi yang membantai keluarga-keluarga Yahudi. Dalam usahanya tersebut, Gerstein dibantu oleh Ricardo Fontana seorang biarawan Yesuit yang memiliki hubungan saudara dengan Paus.
Situasi perang Dunia II dan kediktatoran Nazi saat itu membagi beberapa karakter yang berbeda bagi pelakon-pelakon utama dalam film Amen. Ada Kurt Gerstein dan Ricardo Fontana yang mengalami pergulatan moral yang begitu hebat, ada Sang Dokter (rekan kerja Gerstein di SS) yang bersikap pragmatis, oportunis dan tindakan-tindakan strategis, dan sosok Paus Pius XII yang keberadaan tindakannya dianggap cukup misterius apakah ia dan institusinya mendukung gerakan Nazi atau pihak yang sebenarnya netral tetapi keadaan saat itu membuatnya harus bertindak strategis dan pragmatis.
Hitler membangun Nazi dengan sudut pandang penghakiman parsialnya melahirkan ideologi fasisme yang menutup ruang kritis dan berpikir para pengikutnya. Yahudi dan kaum Marxis saat itu menjadi kambing hitam terpuruknya Jerman di Perang Dunia I. Pengkambinghitaman itu membuat perjuangan Nazi semakin kuat, menjadi otoritas yang disegani bagi pengikutnya. Titah-titahnya dipatuhi secara absolut. Dan keabsolutannya membuat para pengikutnya mampu melakukan hal-hal yang kejam dan menakutkan. Teringat cara penghalalan segala cara dalam berpolitik ketika di suatu masa Machiavelli pernah menulis hal berikut dalam tulisannya yang berjudul “Il Principle”:
“…Membunuh sahabat seperjuangan, mengkhianati teman-teman sendiri, tidak memiliki iman, tidak memiliki rasa kasihan dan tidak memiliki agama; kesemua hal ini tidak dapat digolongkan sebagai tindakan yang bermoral, namun dapat memberikan kekuatan…”
…Manusia tidak segan-segan (lebih) membela orang yang mereka takuti dibanding yang mereka cintai. Karena cinta diikat oleh rantai kewajiban… Pada saat manusia telah mendapatkan apa yang diinginkannya, rantai tersebut akan putus. (Sebaliknya) rasa takut tidak akan pernah gagal…”
Mereka (para pengikut Nazi) pada dasarnya orang-orang biasa, orang-orang normal, orang-orang yg baik dalam kehidupan sehari-harinya. Menurut Hannah Arendt dengan teori banalitas kejahatan-nya, situasi membuat mereka tidak memiliki imajinasi dan kemampuan berpikir jernih, sehingga memampukan diri dalam melakukan hal-hal yang banal, melakukan hal-hal yang sebenarnya merupakan tindakan kejahatan tetapi tidak disadari sebagai sebuah tindakan kejahatan.
Tetapi tidak bagi Gerstein dan Ricardo. Mereka tidak terbawa arus besar untuk menafikan kemampuan berpikir jernihnya. Tampak naïf sepertinya apa yang mereka berdua perjuangkan di tengah arus besar yang melawannya. Berbeda bagi Sang Dokter, mungkin ia mengerti nilai-nilai moralitas, ia mengerti bahwa ia melakukan hal-hal pentidakmanusiawian dan menjadi antek pembantai. Tapi ia lebih memilih atas nama kebertahanan dan keberlangsungan hidup yang aman, ia menjadi seorang oportunis yang melakukan tindakan-tindakan pragmatis yang mungkin.
Lalu bagaimana dengan sudut pandang sisi seorang Paus pada saat itu? Vatikan adalah sebuah institusi yang membawahi jutaan umat dunia. Institusi dengan segala pernak-perniknya tentulah sebuah kemelekatan. Kemelekatan adalah bentuk kerapuhan. Bila Paus secara pendirian ternyata diasumsikan sebenarnya tidak menyetujui tindakan Nazi terhadap kaum Yahudi, maka institusi yang dipimpinnya dengan segala kemelekatannya melahirkan ketakutan-ketakutan. Ketika ia berdiri atas nama dirinya sendiri maka beban kemelekatan itu mungkin akan berkurang. Lepas dari apakah ia berdiri sebagai seorang individu atau mewakili sebuah institusi, melawan arus utama di mana pun itu sungguh merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. Seperti tercatat dalam sebuah percakapan dalam film yang kira-kira berisi bahwa ada dua cara menjalani hidup: hidup yang nyata, realita yang dijalani, dan hidup yang seharusnya (idealnya) dijalani. Sayangnya kita hanya bisa menjalani hidup yang senyatanya terjalani.
Atas nama moralitas baik dan buruk, manusia bisa tulus melakukan kekejaman. Bisa melalui pengatasnamaan Ilahiah, bangsa, golongan, kelompok, kebenaran atau yang dianggap benar; yang sebenarnya bias dan parsial, bukan kebenaran yang utuh. Padahal pada hakikatnya semuanya adalah bentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan dan saling bergantung satu sama lain. Bahwa kita semua adalah partikel-partikel, puzzle-puzzle kebenaran yang membentuk satu kebenaran besar, dan satu kesatuan besar. Dan satu kesatuan besar itu bisa kita menyebutnya sebagai Tuhan.
--------------------------------------------------------- * * * ----------------------------------------------------------
