Sabtu, 18 Juli 2015

Teman yang “Pandai”

Teman yang “Pandai”

Komunikasi merupakan suatu cara mahluk hidup untuk berbagi informasi dalam proses simbolik. Kira-kira demikian salah satu definisi komunikasi menurut dosen teori Komunikasi saya di kampus. Saya tidak mau membahas terlalu jauh  tentang komunikasi karena tulisan saya sekarang  lebih ingin untuk membahas yang praktis saja, tidak perlu membuat renungan tentang filsafat secara mendalam. 

Dalam berbagai jenis komunikasi, ada bentuk komunikasi yang “salah” atau tidak sesuai fakta. Mungkin secara singkat saya menyebutkan jenis komunikasi ini sebagai “berita bohong”. Walaupun berkesan negatif, namun pengalaman menerima berita bohong  bisa membantu cara berpikir  agar lebih sistematis. Ada yang bilang dengan melatih otak seperti ini mencengah kita untuk terhindar dari demensia atau pikun.

Sering sekali kita dalam keseharian mendengar berita bohong. Ketika sedang bertanya jalan,  sedang mendengarkan gosip artis, membaca berita di media sosial atau share berita di group chatting. Bentuk berita sesat semacam itu hadir dalam berbagai bentuk seperti berita, gambar, rasa, suara dan lain sebagainya. Bahkan terkadang saking seringnya kita mendapat informasi, susah sekali untuk membedakan mana informasi yang benar atau yang salah.

Entah mengapa penyesatan tersebut terjadi berulang kali dan terkadang betapa bodohnya kita untuk terus menerus salah untuk mempercayai penyesatan tersebut. Tetapi pernahkah timbul dipikiranmu tentang, mengapa kita bisa mendengar kebohongan seperti itu? Atau lebih mendalam lagi, mengapa seseorang perlu untuk berbohong?

Ada suatu contoh seperti ini, seorang  A yang demikian bebalnya untuk selalu mengulang dan mengulang kesalahannya berpikir tentang hidup. A memiliki cara pandang yang aneh dalam berpikir, sehingga teman-teman bahkan lingkungan sosialnya cenderung tidak mempercayai A. Namun A sering sekali dengan berapi-api untuk memaksakan cerita atau argumennya (yang sudah sering sekali terbukti bohong) untuk didengar oleh orang lain. Bahkan A akan memaksa untuk menyokong kebohongannya lebih lanjut dengan melampirkan referensi berita (menurut dia) dari internet, entah sejatinya dari bermacam sumber atau hanya tipuan dia untuk membohongi orang. Lain lagi ada B yang berusaha untuk terlihat hebat, dengan berbual tentang ini dan itu. Saking seringnya membual sehingga teman-temannya sudah tidak mempercayai lagi cerita yang keluar dari mulutnya. 

Masih banyak lagi contoh orang-orang seperti itu dalam kehidupan sosial kita, entah disadari atau tidak. Tetapi hal yang perlu disadari adalah mislead informasi menghasilkan dampak yang mirip dengan racun berbahaya. Semua contoh orang yang terbiasa dengan kebohongan seperti ini bisa dikelompokan sebagai orang-orang yang berusaha untuk menampilkan ego-nya. Pengertian ego yang dimaksud disini adalah ego-nya Sigmund Freud yang berarti aktualisasi diri. 

Pengulangan kebohongan dalam seseorang bisa disebabkan dari beberapa alasan. Ada tiga alasan utama mengapa orang bisa berbohong, pertama adalah mereka merasa berhasil dengan kebohongan mereka untuk menampilkan diri dan diterima secara sosial. Kedua, mereka mempraktikkan cara ini karena melihat contoh tokoh pembohong yang berhasil. Memang benar ada beberapa contoh yang berhasil melakukan pembohongan hebat sehingga publik mempercayai kebohongan tersebut. Biasanya tokoh seperti ini mempunyai citra sebagai publik figur atau biasa disebut “artis”. Namun sayangnya seperti yang dikatakan Paul Virilio di jaman dromologi  saat ini, informasi yang berkembang demikian hebat sehingga manusia bisa mencari kebenaran lebih mudah dengan bantuan teknologi.  Sehingga sulit sekali menjadi pembual yang sukses dijaman percepatan informasi seperti sekarang. 

Yang terakhir adalah jenis orang yang tidak sadar bahwa sebenar dia tidak menyadari pola berpikirnya adalah pembual, namun terus menerus mengulang kebiasaan tersebut sekalipun sudah beberapa kali timbul masalah dari kebiasaannya tersebut. Mungkin benar pepatah orang Sunda yang mengatakan “can neungar cadas”, orang jenis ini belum mengalami mental breakdown yang demikian hebatnya sehingga dia mulai merenungkan tindakannya selama ini. 

Manusia pembohong adalah manusia insecure, sebenarnya mereka sedang berusaha menutupi dirinya dengan kebohongan karena dia sadar bahwa dalam dirinya ada suatu kelemahan yang tidak boleh terlihat orang. Kebohongan bisa menjadi wahana praktis untuk menutupi kelemahan seseorang, semakin sering digunakan maka dia akan semakin terbiasa. Padahal langkah awal untuk menghilangkan watak buruk seperti ini cukup jelas dan mudah. Seseorang yang bisa menerima kondisi diri dan mengakuinya pada publik adalah langkah awal yang harus diambil. 

Betapa malasnya manusia yang terus menerus untuk selalu mencari pembenaran dalam kebohongan. Padahal seharusnya manusia tidak boleh hanya sekedar menerima. Karena dalam kondisi menerima saja, tentu orang tidak akan berkembang. Menurut Bambang Sugiharto, dasar dalam berpikir sistematis adalah kritik. Dengan mempertanyakan, maka kita menempatkan diri sebagai orang yang tidak tahu. Dalam bertanya kita boleh memiliki argumen dan tentu lebih bagus apabila argumen tersebut bukan pendapat subjektif, melainkan dari sumber referensi yang baik. Pertanyaan yang efektif adalah pertanyaan yang tidak bersifat retorika. Pertanyaan yang baik tidak memaksakan pendapat pribadi, namun bisa mendengar, memahami dan memiliki empati dari lawan argumen.

Benar kata bijak dari Lee XiaoLong “untuk mengisi cangkir adalah mengosongkan cangkir tersebut. Jadilah kosong untuk mendapatkan totalitas.”  Dalam pidatonya yang terkenal tentang air dan bagaimana air mengalir dan kekuatan dalam kelembutan terbukti dari pencapaiannya sebagai aktor bela diri paling inspirasional. Manusia dengan keterbatasannya sering terhambat dari keberhasilannya. Orang yang terlahir dengan kemudahan hidup akan susah untuk bergerak maju, demikian juga orang yang puas dengan pencapaiannya. Sekiranya kita jangan terlalu lama untuk berdiam di dalam suatu titik, tidak usah takut salah. Hidup harus terus mengalir mengikuti bentuk atau menabrak layaknya musik Jazz yang enak didengar, terencana dalam bentuk tertentu namun ringan terbawa arus.


Sabtu, 11 Juli 2015

Ada...Sekedar Untuk Mengalami

Filsafat. Seperti ada beban berat ketika harus membicarakan istilah ini. Seakan untuk membicarakannya ada literature-literatur tertentu yang harus dikuasai. Dari para filsafat alam jaman pra Sokrates hingga yang kontemporer. Padahal konon katanya bahwa berfilsafat itu hak semua manusia dan karenanya semua manusia adalah filsuf. Yang jelas hidup saya jadi “rusak” gara-gara si Sophie-nya (Dunia Sophie) Jostein Gaarder. Itu awal buku filsafat yang saya kenal. 

Filsafat mengajak saya untuk lebih terlibat dalam hidup. Setidaknya tidak cuma menjadi seonggok manusia yang cuma sekedar. Sekedar berpikir, sekedar bernafas, sekedar beraktivitas, sekedar hidup. Benar begitu? Entahlah yang jelas cita-citanya begitu..haha Apakah karenanya juga filsafat bisa lebih membahagiakan? Entah juga, yang jelas filsafat semakin membuat saya paham bahwa segalanya kecuali kematian adalah hal yang tidak pasti, termasuk kebahagiaan.

Membicarakan kematian konon itu pembicaraan yang paling filosofis. Dan kalau  boleh ditambah satu lagi yaitu membicarakan perihal harapan. Satu hal yang pasti sekaligus satu hal yang paling ingin dihindari untuk dibicarakan dan dialami oleh manusia adalah kematian. Dan harapan lah yang menjadi wadah eskapisnya kemudian. Yang membuat manusia bertahan untuk bisa terus melangsungkan denyut jantung dan hela nafasnya.

Semua bermula dari kita yang terlempar ke dunia tanpa alasan, tanpa makna. Begitu pula ujung daripadanya, ketiadaan yang abadi. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk bisa mengubah kenyataan ini. Kita yang menjalani hidup dengan berani atau pengecut pun sama saja, kenyataan tersebut tak berubah. Lalu bagaimana dengan adanya ungkapan bahwa hidup yang tanpa makna bukanlah hidup yang layak dijalani?

Manusia membutuhkan hidup yang bermakna, bahkan dalam usaha pencarian ketidakbermaknaanya. Kita butuh orientasi hidup. Sebegitu tahankah kita mengetahui diri tidak lebih dari sebongkah batu, sebatang pohon? Karenanya kita menciptakan makna, sebab kita tidak sanggup untuk menjalani realita tentang ketiadaan yang abadi. Di dorong oleh kuasa harapan, kita menciptakan permainan peran dan tenggelam di dalamnya layaknya anak-anak yang asyik bermain dalam kepura-puraan dan kenaivannya. Maka lahirlah agama, ideologi-ideologi yang kita anggap penting yang pada cita-citanya membentuk kita menjadi manusia yang baik. Cita-cita mulia yang setidaknya sejenak melupakan kita akan ketiadaan abadi. Kita pun menyibukkan diri dalam segala kegiatan kecil dan besar karenanya. Hidup adalah ruang teatrikal manusia.

Seorang Jean Jacques Rousseau pernah menuliskan ungkapan ini, “Saya sudah menderita terlalu banyak dalam hidup, maka sangat saya harapkan hidup yang berikutnya.” Ada harapan yang lahir dari seorang Rousseau dengan hidup yang identik dengan penderitaan.

Menjadi orang baik bukan untuk berharap bahwa akan datang kebaikan nantinya. Harapan itu bagi saya melelahkan, sebab realita hidup sayangnya berjalan tidak berdasar hitung-hitungan sedemikian. Hal baik dan buruk terjadi begitu saja dan kepada siapa saja secara acak.

Bagaimana dengan agama. Agama adalah sebuah karya besar salah satu pilar peradaban manusia. Agama sebagai satu karya, satu mata, dan satu dunia. Manusia tidak cukup mengapresiasi hanya satu karya saja dan satu cara pandang saja. Saya sangat suka pandangan F. Budi Hardiman tentang hal ini : Lahaplah dunia dengan mata capung. Itu bukanlah relativisme, melainkan perspektivisme. Pandanglah kebenaran dalam perspektif yang berganti-ganti, maka semakin lengkaplah kebenaran. Melihat dunia dengan banyak wajah. Manusia dari satu buku gentar menghadapi keragaman dunia sehingga ia lari memeluk erat-erat buku keramatnya sambil mencerca buku-buku lain untuk menyembunyikan kecanggungannya dalam menghadapi kemajemukan dunia.

Kembali ke soal kebermaknaan hidup. Jadi teringat dengan perkataan Sokrates bahwa hidup yang tak layak dijalani adalah hidup yang tidak direfleksi, yang tidak terkoreksi, alias tidak terkritisi. Tapi untuk apa pula hidup dikritisi bila ujung-ujungnya manusia hanya akan menjadi pupuk bagi alam? Bila begitu kenapa juga kita tidak melakukan bunuh diri masal dan mati sekarang juga? Pertanyaan-pertanyaan ini tentunya seperti kita tahu mengarah pada pandangan nihilis. Saya sendiri tidak tahu jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sesat itu. Saat ini saya hanya mengada untuk bisa mengalami hidup dengan segala rasanya. Menikmati suasana teatrikal di dalam nya, di mana kadang saya bertindak pikir bahwa seakan-akan saya merefleksikan hidup dengan begitu dalam. Seperti bahwa filsafat tidak membuat saya menghindari tindakan-tindakan ketidakdewasaan atau bahkan kealay-alayan. Saya bahkan sadar bahwa saya berada dalam suatu situasi ketidakdewasaan, tapi saya tetap mengambil jalan untuk mengalami dan menjalaninya. 

Senin, 06 Juli 2015

Apa Kabar Filsafat?



Halo Aping di tempat,


Apa kabar Bung Aping, semoga masih sehat dan baik - baik saja. Sepertinya waktu terasa kurang saat terakhir kali bertemu di acara Extention Course Unpar 2014. Masih banyak hal yang penting dan seru untuk diobrolkan. Pembahasan kita di luar sembari makan keripik dan ngopi sepertinya dalam, sedalam pembahasan filsafat di dalam kelas. BTW Ping, sebenarnya apa sih yang membikin filsafat itu menarik? Koq bisa yah kelas filsafat jadi sepenuh itu? Alasan lu kalo ga salah ikut kelas ECF berkali-kali akibat “ketagihan mr.Bambang...”. Jadi teringat waktu kita masih kuliah di Cihampelas, saat masih jadi mahasiswa yang polos lantas diberi pertanyaan – pertanyaan aneh dari Pa Bambang. Apa itu keindahan? Apa itu Tuhan? Kita mahasiswa yang kerjaannya main futsal dan kartu remi cuma bisa cengar – cengir mendengar hal tersebut.

Seolah kita adalah orang yang seumur hidup hanya memandang tembok gua, lalu disuruh untuk menoleh ke belakang, melihat keluar gua. Banyak diantara kita yang menoleh, berpikir sesaat tentang dunia di luar gua  lalu kembali lagi menatap tembok gua. Tapi beberapa diantara kita ada yang terus penasaran dan terus melangkah keluar gua. Bagi saya mempelajari sesuatu yang baru adalah hal yang menarik. Mengapa kita tidak coba untuk cari tahu? Walaupun nantinya akan bingung dan kadang kecewa.

Tentang Baik dan Jahat

Saya pernah mendengar dari seseorang  tentang bagaimana manusia seharusnya tidak takut untuk salah. Salah merupakan sifat manusia yang tidak bisa dipungkiri. Manusia adalah mahluk dinamis yang selalu belajar dari kesalahan. Tidak ada bedanya dengan anjing, kera dan hewan lainnya. Yang sering manusia lupa adalah bagaimana kita harus mencoba untuk belajar, tidak berhenti untuk mencari tahu. Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche tentang “lebih baik menjadi orang pandai daripada orang baik”. Mungkin sekilas pernyataan tersebut terkesan salah, namun apabila ditelaah lebih lanjut pernyataan ini sangat benar. Bagaimana mungkin seseorang dianggap baik apabila dia tidak tahu apa itu baik? Untuk mengetahui perbedaan baik dan buruk manusia perlu untuk menjadi “pandai”.

Apa yang bisa kita definisikan sebagai pandai adalah kemampuan manusia untuk mengerti dan memahami suatu hal. Bagaimana mungkin orang merasa baik, tanpa mengerti atau memahami baik? Kita ambil alegori yang sederhana, A adalah seseorang yang soleh dan rajin beribadah. Setiap minggu A pergi ke gereja dan berdoa setiap hari. A mempercayai nilai moral bedasarkan apa yang diajarkan agamanya. Maka A disebut sebagai orang baik oleh orang. Lalu bagaimana A menilai arti kata baik itu sendiri? Apakah apa yang diajarkan agama A merupakan hal yang terbaik? 

Sering kita mendengar jawaban “Semua agama pada dasarnya baik”. Sekiranya jawaban itu hanya ucapan basa - basi yang setingkat dengan “Apa kabar“. Bagaimana mungkin semua agama baik? Kalau memang demikian, tentu tidak jadi masalah kalau A berpindah - pindah agama karena semuanya adalah hal yang baik. 

Dalam cerita Life of Pi karangan Yann Martel, Piscine “Pi” Patel menganut tiga agama berbeda yaitu Katolik, Islam dan Hindu. Pilihan Pi untuk menganut ketiga agama tersebut tentu akan melahirkan bentuk agama baru, agama Pi itu sendiri! Pi menganggap tidak ada salahnya kita mengambil secara eklektik masing-masing nilai baik suatu agama sesuai selera dia, sama halnya seperti kita memilih sayuran semau kita dalam perjamuan pesta prasmanan. 

Bagi saya agama adalah suatu ajaran yang menyebut Tuhan secara khusus sebagai hukum kebenaran menurut pemahaman pribadi. Asas dari ajaran tersebut adalah buku yang ditulis dan klaim bahwa ajarannya adalah ajaran paling benar, walaupun dalam kalimat dan cara persuasif yang berbeda. Sedangkan komoditas ajaran agama tersebut sama saja yaitu Surga dan Neraka. 

Skeptisme Dalam Moral

Ketika jaman dulu kita harus membaca buku secara manual, sumber ilmu pengetahuan sangat terbatas. Orang harus pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi yang mereka butuhkan. Berbeda dengan jaman sekarang yang begitu mudahnya manusia untuk mencari referensi atau mencari catatan ilmiah tentang segala sesuatu. Cukup mengangkat gadget lalu biarkan google atau wikipedia menjawab semua pertanyaan tersebut, setidaknya tidak perlu repot - repot datang ke perpustakaan umum. Namun pada sisi lain teknologi  juga menjadi senjata untuk mengakali "para manusia lugu". Bisa dilihat dari info – info yang tidak bertanggung jawab yang muncul dalam halaman facebook atau situs berita elektronik kacangan. 

Sekali lagi, manusia dengan kemampuan jelajah pengetahuan yang demikian tinggi kembali di perdaya oleh sekelompok manusia “pandai” yang bisa memanfaatkan kesempatan. Pada kenyataannya manusia cenderung enggan mencari hal baru apabila tinggal di zona nyaman, malas untuk bergerak maju. Sayangnya kebenaran yang hakiki justru sangat erat dengan kenyataan yang rasional namun menyakitkan (nihilisme). NB : Lain kali saya akan membahas tentang ini.

Mari kita tilik tentang kisah hidup Pramoedya Toer. Pram (sebutan untuk Pramoedya) adalah seorang penulis Indonesia yang terkenal. Dalam karya tetralogi Pulau Buru menceritakan tentang kisah Minke sebagai tokoh utama. Minke adalah seorang anak bangsawan Jawa pada masa pra kemerdekaan Indonesia. Dalam novel tersebut menceritakan bagaimana Minke berjuang melawan kondisi sosial yang tidak etis. Saat itu derajat hidup manusia berbeda - beda, tergantung dilahirkan oleh siapa. Dalam buku Bumi Manusia kita melihat bagaimana seseorang akan di pandang rendah hanya bedasarkan status sosial, bukan dari kemampuannya. 

Pelajaran moral yang ditampilkan dalam novel tersebut merupakan contoh yang baik untuk kita praktikkan pada masa sekarang, bukan sekedar menelaah tulisan dogmatis pada ajaran agama samawi yang tidak rasional. Buku tetralogi Pulau Buru mendapat penghargaan di berbagai negara dan di akui oleh negara –negara maju. Perlu diketahui bahwa Pram saat menulis novel tersebut sedang berada di penjara karena menjadi tahanan politik Orde Baru.


Yang Lebih Tinggi dari Agama


Kisah Pramoedya bisa menjadi pembanding yang baik antara moral agama dan moral sosial. Pramoedya di penjara karena dianggap sebagai antek komunis pada masa Orde Baru. Padahal dalam bukunya tidak ada ajaran komunis yang dianggap sebagai momok menakutkan. Justru pada masa tersebut kondisi Indonesia lebih mirip dengan kondisi negara komunis. Di mana pada saat itu kemerdekaan berpendapat dilarang dan orang yang dianggap berbahaya oleh pemerintah akan dibunuh secara massal.

Paham komunis menurut saya hanya sebuah paham utopia. Karena tidak mungkin mengatur manusia dalam jumlah yang sangat banyak (negara) dengan kesama rataan hak dan kewajiban. Pada kenyataannya setiap negara yang mencoba sistem komunis hanya berupa kedok kekuasaan diktator. Saya lebih setuju dengan paham Man Jadda WaJada (barang siapa bersungguh-sungguh, akan berhasil). 

Pertanyaannya adalah, sungguh-sungguh macam apa yang bisa membuahkan hasil? Akan sangat konyol apabila seekor ikan dilatih untuk pandai berlari. Sungguh - sungguh yang dibutuhkan adalah ketekunan sesuai nalar. Saya sendiri percaya bahwa hal pokok dari nalar adalah  jujur (honest) terhadap diri sendiri. Karena dalam jujur kita akan belajar untuk introspeksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain. 

Seperti yang sudah disebutkan, kesalahan merupakan suatu hal yang wajar. Namun manusia tentu bukan seperti keledai yang terus – menerus melakukan kesalahan yang sama. Karena jika seseorang melakukan kesalahan yang terus – menerus sebenarnya dia sudah memilih kesalahan itu. Jangan pernah merasa pandai, tetaplah merasa bodoh dan terus menerus iqra dan belajar.

Sekiranya demikian apa yang sedang saya pikirkan Bung Aping, semoga pemikiran ini bisa menjadi bahan kita ngobrol dengan kripik dan kopi lain waktu... hehehe.

Salam,
Eko