Filsafat. Seperti ada beban berat ketika harus membicarakan istilah ini. Seakan untuk membicarakannya ada literature-literatur tertentu yang harus dikuasai. Dari para filsafat alam jaman pra Sokrates hingga yang kontemporer. Padahal konon katanya bahwa berfilsafat itu hak semua manusia dan karenanya semua manusia adalah filsuf. Yang jelas hidup saya jadi “rusak” gara-gara si Sophie-nya (Dunia Sophie) Jostein Gaarder. Itu awal buku filsafat yang saya kenal.
Filsafat mengajak saya untuk lebih terlibat dalam hidup. Setidaknya tidak cuma menjadi seonggok manusia yang cuma sekedar. Sekedar berpikir, sekedar bernafas, sekedar beraktivitas, sekedar hidup. Benar begitu? Entahlah yang jelas cita-citanya begitu..haha Apakah karenanya juga filsafat bisa lebih membahagiakan? Entah juga, yang jelas filsafat semakin membuat saya paham bahwa segalanya kecuali kematian adalah hal yang tidak pasti, termasuk kebahagiaan.
Membicarakan kematian konon itu pembicaraan yang paling filosofis. Dan kalau boleh ditambah satu lagi yaitu membicarakan perihal harapan. Satu hal yang pasti sekaligus satu hal yang paling ingin dihindari untuk dibicarakan dan dialami oleh manusia adalah kematian. Dan harapan lah yang menjadi wadah eskapisnya kemudian. Yang membuat manusia bertahan untuk bisa terus melangsungkan denyut jantung dan hela nafasnya.
Semua bermula dari kita yang terlempar ke dunia tanpa alasan, tanpa makna. Begitu pula ujung daripadanya, ketiadaan yang abadi. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk bisa mengubah kenyataan ini. Kita yang menjalani hidup dengan berani atau pengecut pun sama saja, kenyataan tersebut tak berubah. Lalu bagaimana dengan adanya ungkapan bahwa hidup yang tanpa makna bukanlah hidup yang layak dijalani?
Manusia membutuhkan hidup yang bermakna, bahkan dalam usaha pencarian ketidakbermaknaanya. Kita butuh orientasi hidup. Sebegitu tahankah kita mengetahui diri tidak lebih dari sebongkah batu, sebatang pohon? Karenanya kita menciptakan makna, sebab kita tidak sanggup untuk menjalani realita tentang ketiadaan yang abadi. Di dorong oleh kuasa harapan, kita menciptakan permainan peran dan tenggelam di dalamnya layaknya anak-anak yang asyik bermain dalam kepura-puraan dan kenaivannya. Maka lahirlah agama, ideologi-ideologi yang kita anggap penting yang pada cita-citanya membentuk kita menjadi manusia yang baik. Cita-cita mulia yang setidaknya sejenak melupakan kita akan ketiadaan abadi. Kita pun menyibukkan diri dalam segala kegiatan kecil dan besar karenanya. Hidup adalah ruang teatrikal manusia.
Seorang Jean Jacques Rousseau pernah menuliskan ungkapan ini, “Saya sudah menderita terlalu banyak dalam hidup, maka sangat saya harapkan hidup yang berikutnya.” Ada harapan yang lahir dari seorang Rousseau dengan hidup yang identik dengan penderitaan.
Menjadi orang baik bukan untuk berharap bahwa akan datang kebaikan nantinya. Harapan itu bagi saya melelahkan, sebab realita hidup sayangnya berjalan tidak berdasar hitung-hitungan sedemikian. Hal baik dan buruk terjadi begitu saja dan kepada siapa saja secara acak.
Bagaimana dengan agama. Agama adalah sebuah karya besar salah satu pilar peradaban manusia. Agama sebagai satu karya, satu mata, dan satu dunia. Manusia tidak cukup mengapresiasi hanya satu karya saja dan satu cara pandang saja. Saya sangat suka pandangan F. Budi Hardiman tentang hal ini : Lahaplah dunia dengan mata capung. Itu bukanlah relativisme, melainkan perspektivisme. Pandanglah kebenaran dalam perspektif yang berganti-ganti, maka semakin lengkaplah kebenaran. Melihat dunia dengan banyak wajah. Manusia dari satu buku gentar menghadapi keragaman dunia sehingga ia lari memeluk erat-erat buku keramatnya sambil mencerca buku-buku lain untuk menyembunyikan kecanggungannya dalam menghadapi kemajemukan dunia.
Kembali ke soal kebermaknaan hidup. Jadi teringat dengan perkataan Sokrates bahwa hidup yang tak layak dijalani adalah hidup yang tidak direfleksi, yang tidak terkoreksi, alias tidak terkritisi. Tapi untuk apa pula hidup dikritisi bila ujung-ujungnya manusia hanya akan menjadi pupuk bagi alam? Bila begitu kenapa juga kita tidak melakukan bunuh diri masal dan mati sekarang juga? Pertanyaan-pertanyaan ini tentunya seperti kita tahu mengarah pada pandangan nihilis. Saya sendiri tidak tahu jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sesat itu. Saat ini saya hanya mengada untuk bisa mengalami hidup dengan segala rasanya. Menikmati suasana teatrikal di dalam nya, di mana kadang saya bertindak pikir bahwa seakan-akan saya merefleksikan hidup dengan begitu dalam. Seperti bahwa filsafat tidak membuat saya menghindari tindakan-tindakan ketidakdewasaan atau bahkan kealay-alayan. Saya bahkan sadar bahwa saya berada dalam suatu situasi ketidakdewasaan, tapi saya tetap mengambil jalan untuk mengalami dan menjalaninya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar