Senin, 06 Juli 2015

Apa Kabar Filsafat?



Halo Aping di tempat,


Apa kabar Bung Aping, semoga masih sehat dan baik - baik saja. Sepertinya waktu terasa kurang saat terakhir kali bertemu di acara Extention Course Unpar 2014. Masih banyak hal yang penting dan seru untuk diobrolkan. Pembahasan kita di luar sembari makan keripik dan ngopi sepertinya dalam, sedalam pembahasan filsafat di dalam kelas. BTW Ping, sebenarnya apa sih yang membikin filsafat itu menarik? Koq bisa yah kelas filsafat jadi sepenuh itu? Alasan lu kalo ga salah ikut kelas ECF berkali-kali akibat “ketagihan mr.Bambang...”. Jadi teringat waktu kita masih kuliah di Cihampelas, saat masih jadi mahasiswa yang polos lantas diberi pertanyaan – pertanyaan aneh dari Pa Bambang. Apa itu keindahan? Apa itu Tuhan? Kita mahasiswa yang kerjaannya main futsal dan kartu remi cuma bisa cengar – cengir mendengar hal tersebut.

Seolah kita adalah orang yang seumur hidup hanya memandang tembok gua, lalu disuruh untuk menoleh ke belakang, melihat keluar gua. Banyak diantara kita yang menoleh, berpikir sesaat tentang dunia di luar gua  lalu kembali lagi menatap tembok gua. Tapi beberapa diantara kita ada yang terus penasaran dan terus melangkah keluar gua. Bagi saya mempelajari sesuatu yang baru adalah hal yang menarik. Mengapa kita tidak coba untuk cari tahu? Walaupun nantinya akan bingung dan kadang kecewa.

Tentang Baik dan Jahat

Saya pernah mendengar dari seseorang  tentang bagaimana manusia seharusnya tidak takut untuk salah. Salah merupakan sifat manusia yang tidak bisa dipungkiri. Manusia adalah mahluk dinamis yang selalu belajar dari kesalahan. Tidak ada bedanya dengan anjing, kera dan hewan lainnya. Yang sering manusia lupa adalah bagaimana kita harus mencoba untuk belajar, tidak berhenti untuk mencari tahu. Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche tentang “lebih baik menjadi orang pandai daripada orang baik”. Mungkin sekilas pernyataan tersebut terkesan salah, namun apabila ditelaah lebih lanjut pernyataan ini sangat benar. Bagaimana mungkin seseorang dianggap baik apabila dia tidak tahu apa itu baik? Untuk mengetahui perbedaan baik dan buruk manusia perlu untuk menjadi “pandai”.

Apa yang bisa kita definisikan sebagai pandai adalah kemampuan manusia untuk mengerti dan memahami suatu hal. Bagaimana mungkin orang merasa baik, tanpa mengerti atau memahami baik? Kita ambil alegori yang sederhana, A adalah seseorang yang soleh dan rajin beribadah. Setiap minggu A pergi ke gereja dan berdoa setiap hari. A mempercayai nilai moral bedasarkan apa yang diajarkan agamanya. Maka A disebut sebagai orang baik oleh orang. Lalu bagaimana A menilai arti kata baik itu sendiri? Apakah apa yang diajarkan agama A merupakan hal yang terbaik? 

Sering kita mendengar jawaban “Semua agama pada dasarnya baik”. Sekiranya jawaban itu hanya ucapan basa - basi yang setingkat dengan “Apa kabar“. Bagaimana mungkin semua agama baik? Kalau memang demikian, tentu tidak jadi masalah kalau A berpindah - pindah agama karena semuanya adalah hal yang baik. 

Dalam cerita Life of Pi karangan Yann Martel, Piscine “Pi” Patel menganut tiga agama berbeda yaitu Katolik, Islam dan Hindu. Pilihan Pi untuk menganut ketiga agama tersebut tentu akan melahirkan bentuk agama baru, agama Pi itu sendiri! Pi menganggap tidak ada salahnya kita mengambil secara eklektik masing-masing nilai baik suatu agama sesuai selera dia, sama halnya seperti kita memilih sayuran semau kita dalam perjamuan pesta prasmanan. 

Bagi saya agama adalah suatu ajaran yang menyebut Tuhan secara khusus sebagai hukum kebenaran menurut pemahaman pribadi. Asas dari ajaran tersebut adalah buku yang ditulis dan klaim bahwa ajarannya adalah ajaran paling benar, walaupun dalam kalimat dan cara persuasif yang berbeda. Sedangkan komoditas ajaran agama tersebut sama saja yaitu Surga dan Neraka. 

Skeptisme Dalam Moral

Ketika jaman dulu kita harus membaca buku secara manual, sumber ilmu pengetahuan sangat terbatas. Orang harus pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi yang mereka butuhkan. Berbeda dengan jaman sekarang yang begitu mudahnya manusia untuk mencari referensi atau mencari catatan ilmiah tentang segala sesuatu. Cukup mengangkat gadget lalu biarkan google atau wikipedia menjawab semua pertanyaan tersebut, setidaknya tidak perlu repot - repot datang ke perpustakaan umum. Namun pada sisi lain teknologi  juga menjadi senjata untuk mengakali "para manusia lugu". Bisa dilihat dari info – info yang tidak bertanggung jawab yang muncul dalam halaman facebook atau situs berita elektronik kacangan. 

Sekali lagi, manusia dengan kemampuan jelajah pengetahuan yang demikian tinggi kembali di perdaya oleh sekelompok manusia “pandai” yang bisa memanfaatkan kesempatan. Pada kenyataannya manusia cenderung enggan mencari hal baru apabila tinggal di zona nyaman, malas untuk bergerak maju. Sayangnya kebenaran yang hakiki justru sangat erat dengan kenyataan yang rasional namun menyakitkan (nihilisme). NB : Lain kali saya akan membahas tentang ini.

Mari kita tilik tentang kisah hidup Pramoedya Toer. Pram (sebutan untuk Pramoedya) adalah seorang penulis Indonesia yang terkenal. Dalam karya tetralogi Pulau Buru menceritakan tentang kisah Minke sebagai tokoh utama. Minke adalah seorang anak bangsawan Jawa pada masa pra kemerdekaan Indonesia. Dalam novel tersebut menceritakan bagaimana Minke berjuang melawan kondisi sosial yang tidak etis. Saat itu derajat hidup manusia berbeda - beda, tergantung dilahirkan oleh siapa. Dalam buku Bumi Manusia kita melihat bagaimana seseorang akan di pandang rendah hanya bedasarkan status sosial, bukan dari kemampuannya. 

Pelajaran moral yang ditampilkan dalam novel tersebut merupakan contoh yang baik untuk kita praktikkan pada masa sekarang, bukan sekedar menelaah tulisan dogmatis pada ajaran agama samawi yang tidak rasional. Buku tetralogi Pulau Buru mendapat penghargaan di berbagai negara dan di akui oleh negara –negara maju. Perlu diketahui bahwa Pram saat menulis novel tersebut sedang berada di penjara karena menjadi tahanan politik Orde Baru.


Yang Lebih Tinggi dari Agama


Kisah Pramoedya bisa menjadi pembanding yang baik antara moral agama dan moral sosial. Pramoedya di penjara karena dianggap sebagai antek komunis pada masa Orde Baru. Padahal dalam bukunya tidak ada ajaran komunis yang dianggap sebagai momok menakutkan. Justru pada masa tersebut kondisi Indonesia lebih mirip dengan kondisi negara komunis. Di mana pada saat itu kemerdekaan berpendapat dilarang dan orang yang dianggap berbahaya oleh pemerintah akan dibunuh secara massal.

Paham komunis menurut saya hanya sebuah paham utopia. Karena tidak mungkin mengatur manusia dalam jumlah yang sangat banyak (negara) dengan kesama rataan hak dan kewajiban. Pada kenyataannya setiap negara yang mencoba sistem komunis hanya berupa kedok kekuasaan diktator. Saya lebih setuju dengan paham Man Jadda WaJada (barang siapa bersungguh-sungguh, akan berhasil). 

Pertanyaannya adalah, sungguh-sungguh macam apa yang bisa membuahkan hasil? Akan sangat konyol apabila seekor ikan dilatih untuk pandai berlari. Sungguh - sungguh yang dibutuhkan adalah ketekunan sesuai nalar. Saya sendiri percaya bahwa hal pokok dari nalar adalah  jujur (honest) terhadap diri sendiri. Karena dalam jujur kita akan belajar untuk introspeksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain. 

Seperti yang sudah disebutkan, kesalahan merupakan suatu hal yang wajar. Namun manusia tentu bukan seperti keledai yang terus – menerus melakukan kesalahan yang sama. Karena jika seseorang melakukan kesalahan yang terus – menerus sebenarnya dia sudah memilih kesalahan itu. Jangan pernah merasa pandai, tetaplah merasa bodoh dan terus menerus iqra dan belajar.

Sekiranya demikian apa yang sedang saya pikirkan Bung Aping, semoga pemikiran ini bisa menjadi bahan kita ngobrol dengan kripik dan kopi lain waktu... hehehe.

Salam,
Eko

Tidak ada komentar:

Posting Komentar