Halo Aping di tempat,
Apa kabar Bung
Aping, semoga
masih sehat dan baik - baik saja. Sepertinya
waktu terasa kurang saat terakhir kali bertemu di acara Extention Course Unpar
2014. Masih banyak hal yang penting dan seru untuk diobrolkan. Pembahasan kita
di luar sembari makan keripik dan ngopi sepertinya dalam, sedalam pembahasan
filsafat di dalam kelas. BTW Ping, sebenarnya apa sih yang membikin filsafat
itu menarik? Koq bisa yah kelas filsafat jadi sepenuh itu? Alasan lu kalo ga salah ikut kelas
ECF berkali-kali akibat “ketagihan mr.Bambang...”. Jadi teringat waktu kita
masih kuliah di Cihampelas, saat masih jadi mahasiswa yang polos lantas diberi
pertanyaan – pertanyaan aneh dari Pa Bambang. Apa itu keindahan? Apa itu Tuhan?
Kita mahasiswa yang kerjaannya main futsal dan kartu remi cuma bisa cengar –
cengir mendengar hal tersebut.
Seolah kita adalah orang yang seumur hidup hanya memandang tembok gua, lalu
disuruh untuk menoleh ke belakang, melihat keluar gua. Banyak diantara kita
yang menoleh, berpikir sesaat tentang dunia di luar gua lalu kembali lagi
menatap tembok gua. Tapi beberapa diantara kita ada yang terus penasaran dan terus
melangkah keluar gua. Bagi saya mempelajari sesuatu yang baru adalah hal yang
menarik. Mengapa kita tidak coba untuk cari tahu? Walaupun nantinya akan
bingung dan kadang kecewa.
Tentang Baik dan Jahat
Saya pernah mendengar dari seseorang tentang bagaimana manusia seharusnya tidak
takut untuk salah. Salah merupakan sifat manusia yang tidak bisa dipungkiri. Manusia
adalah mahluk dinamis yang selalu belajar dari kesalahan. Tidak ada bedanya
dengan anjing, kera dan hewan lainnya. Yang sering manusia lupa adalah
bagaimana kita harus mencoba untuk belajar, tidak berhenti untuk mencari tahu. Seperti
yang dikatakan oleh Nietzsche tentang “lebih baik menjadi orang pandai daripada
orang baik”. Mungkin sekilas pernyataan tersebut terkesan salah, namun apabila
ditelaah lebih lanjut pernyataan ini sangat benar. Bagaimana mungkin seseorang
dianggap baik apabila dia tidak tahu apa itu baik? Untuk mengetahui perbedaan baik dan buruk manusia perlu untuk menjadi “pandai”.
Apa yang bisa kita definisikan sebagai pandai adalah kemampuan manusia
untuk mengerti dan memahami suatu hal. Bagaimana mungkin orang merasa baik,
tanpa mengerti atau memahami baik? Kita ambil alegori yang sederhana, A adalah
seseorang yang soleh dan rajin beribadah. Setiap minggu A pergi ke gereja dan
berdoa setiap hari. A mempercayai nilai moral bedasarkan apa yang diajarkan
agamanya. Maka A disebut sebagai orang baik oleh orang. Lalu bagaimana A
menilai arti kata baik itu sendiri? Apakah apa yang diajarkan agama A
merupakan hal yang terbaik?
Sering kita mendengar jawaban “Semua agama pada dasarnya baik”. Sekiranya
jawaban itu hanya ucapan basa - basi yang setingkat dengan “Apa kabar“.
Bagaimana mungkin semua agama baik? Kalau memang demikian, tentu tidak jadi masalah kalau A berpindah
- pindah agama karena semuanya adalah hal yang baik.
Dalam cerita Life of Pi karangan Yann Martel, Piscine “Pi” Patel menganut tiga agama berbeda yaitu Katolik, Islam dan Hindu. Pilihan Pi untuk menganut ketiga agama tersebut tentu akan melahirkan bentuk agama baru, agama Pi itu sendiri! Pi menganggap tidak ada salahnya kita mengambil secara eklektik masing-masing nilai baik suatu agama sesuai selera dia, sama halnya seperti kita memilih sayuran semau kita dalam perjamuan pesta prasmanan.
Dalam cerita Life of Pi karangan Yann Martel, Piscine “Pi” Patel menganut tiga agama berbeda yaitu Katolik, Islam dan Hindu. Pilihan Pi untuk menganut ketiga agama tersebut tentu akan melahirkan bentuk agama baru, agama Pi itu sendiri! Pi menganggap tidak ada salahnya kita mengambil secara eklektik masing-masing nilai baik suatu agama sesuai selera dia, sama halnya seperti kita memilih sayuran semau kita dalam perjamuan pesta prasmanan.
Bagi saya agama adalah suatu ajaran yang menyebut Tuhan secara khusus sebagai
hukum kebenaran menurut pemahaman pribadi. Asas dari ajaran tersebut adalah buku yang ditulis dan klaim
bahwa ajarannya adalah ajaran paling benar, walaupun dalam kalimat dan cara
persuasif yang berbeda. Sedangkan komoditas ajaran agama tersebut sama saja yaitu
Surga dan Neraka.
Skeptisme Dalam Moral
Ketika jaman dulu kita harus membaca buku secara manual, sumber ilmu
pengetahuan sangat terbatas. Orang harus pergi ke perpustakaan untuk mencari
referensi yang mereka butuhkan. Berbeda dengan jaman sekarang yang begitu
mudahnya manusia untuk mencari referensi atau mencari catatan ilmiah tentang segala sesuatu. Cukup mengangkat gadget lalu biarkan google atau wikipedia menjawab semua pertanyaan
tersebut, setidaknya tidak perlu repot - repot datang ke perpustakaan umum. Namun pada sisi lain teknologi juga menjadi senjata untuk mengakali "para manusia lugu". Bisa dilihat dari info –
info yang tidak bertanggung jawab yang muncul dalam halaman facebook atau situs berita elektronik kacangan.
Sekali lagi, manusia dengan kemampuan jelajah pengetahuan yang demikian
tinggi kembali di perdaya oleh sekelompok manusia “pandai” yang bisa
memanfaatkan kesempatan. Pada kenyataannya manusia cenderung enggan mencari hal baru apabila tinggal di zona nyaman, malas untuk bergerak maju. Sayangnya kebenaran yang hakiki
justru sangat erat dengan kenyataan yang rasional namun menyakitkan (nihilisme). NB : Lain kali saya akan membahas tentang ini.
Mari kita tilik tentang kisah hidup Pramoedya Toer. Pram (sebutan untuk Pramoedya)
adalah seorang penulis Indonesia yang terkenal. Dalam karya tetralogi Pulau Buru menceritakan tentang
kisah Minke sebagai tokoh utama. Minke adalah seorang anak bangsawan Jawa
pada masa pra kemerdekaan Indonesia. Dalam novel tersebut menceritakan
bagaimana Minke berjuang melawan kondisi sosial yang tidak etis. Saat itu derajat hidup manusia berbeda - beda, tergantung dilahirkan oleh siapa. Dalam buku Bumi Manusia kita melihat bagaimana
seseorang akan di pandang rendah hanya bedasarkan status sosial, bukan dari
kemampuannya.
Pelajaran moral yang ditampilkan dalam novel tersebut merupakan contoh yang baik untuk kita praktikkan pada masa sekarang, bukan sekedar menelaah tulisan dogmatis
pada ajaran agama samawi yang tidak rasional. Buku
tetralogi Pulau Buru mendapat
penghargaan di berbagai negara dan di akui oleh negara –negara maju. Perlu diketahui bahwa Pram saat
menulis novel tersebut sedang berada di penjara karena menjadi tahanan politik Orde Baru.
Yang Lebih Tinggi dari Agama
Kisah Pramoedya bisa menjadi pembanding yang baik antara moral agama dan moral
sosial. Pramoedya di penjara karena dianggap sebagai antek komunis pada masa
Orde Baru. Padahal dalam bukunya tidak ada ajaran komunis yang dianggap sebagai
momok menakutkan. Justru pada masa tersebut kondisi Indonesia lebih mirip
dengan kondisi negara komunis. Di mana pada saat itu kemerdekaan berpendapat dilarang
dan orang yang dianggap berbahaya oleh pemerintah akan dibunuh secara massal.
Paham komunis menurut saya hanya sebuah paham utopia. Karena tidak mungkin mengatur manusia dalam jumlah yang sangat banyak (negara) dengan kesama rataan hak dan kewajiban. Pada kenyataannya setiap negara yang mencoba sistem komunis hanya berupa kedok kekuasaan diktator. Saya lebih setuju dengan paham Man Jadda WaJada (barang siapa bersungguh-sungguh, akan berhasil).
Pertanyaannya adalah, sungguh-sungguh macam apa yang bisa membuahkan hasil? Akan sangat konyol apabila seekor ikan dilatih untuk pandai berlari. Sungguh - sungguh yang dibutuhkan adalah ketekunan sesuai nalar. Saya sendiri percaya bahwa hal pokok dari nalar adalah jujur (honest) terhadap diri sendiri. Karena dalam jujur kita akan belajar untuk introspeksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
Paham komunis menurut saya hanya sebuah paham utopia. Karena tidak mungkin mengatur manusia dalam jumlah yang sangat banyak (negara) dengan kesama rataan hak dan kewajiban. Pada kenyataannya setiap negara yang mencoba sistem komunis hanya berupa kedok kekuasaan diktator. Saya lebih setuju dengan paham Man Jadda WaJada (barang siapa bersungguh-sungguh, akan berhasil).
Pertanyaannya adalah, sungguh-sungguh macam apa yang bisa membuahkan hasil? Akan sangat konyol apabila seekor ikan dilatih untuk pandai berlari. Sungguh - sungguh yang dibutuhkan adalah ketekunan sesuai nalar. Saya sendiri percaya bahwa hal pokok dari nalar adalah jujur (honest) terhadap diri sendiri. Karena dalam jujur kita akan belajar untuk introspeksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
Seperti yang sudah disebutkan, kesalahan merupakan suatu hal yang wajar.
Namun manusia tentu bukan seperti keledai yang terus – menerus melakukan
kesalahan yang sama. Karena jika seseorang melakukan kesalahan
yang terus – menerus sebenarnya dia sudah memilih kesalahan itu. Jangan pernah merasa pandai, tetaplah merasa bodoh dan terus menerus
iqra dan belajar.
Sekiranya demikian apa yang sedang saya pikirkan Bung Aping, semoga
pemikiran ini bisa menjadi bahan kita ngobrol dengan kripik dan kopi lain
waktu... hehehe.
Salam,
Eko
Tidak ada komentar:
Posting Komentar