Teman yang “Pandai”
Komunikasi merupakan suatu cara mahluk hidup untuk berbagi
informasi dalam proses simbolik. Kira-kira demikian salah satu definisi
komunikasi menurut dosen teori Komunikasi saya di kampus. Saya tidak mau
membahas terlalu jauh tentang komunikasi
karena tulisan saya sekarang lebih ingin
untuk membahas yang praktis saja, tidak perlu membuat renungan tentang filsafat
secara mendalam.
Dalam berbagai jenis komunikasi, ada bentuk komunikasi yang “salah”
atau tidak sesuai fakta. Mungkin secara singkat saya menyebutkan jenis
komunikasi ini sebagai “berita bohong”. Walaupun berkesan negatif, namun
pengalaman menerima berita bohong bisa membantu cara berpikir agar lebih sistematis. Ada yang bilang dengan melatih otak seperti ini
mencengah kita untuk terhindar dari demensia atau pikun.
Sering sekali kita dalam keseharian mendengar berita bohong.
Ketika sedang bertanya jalan, sedang mendengarkan gosip artis, membaca
berita di media sosial atau share
berita di group chatting. Bentuk
berita sesat semacam itu hadir dalam berbagai bentuk seperti berita, gambar, rasa,
suara dan lain sebagainya. Bahkan terkadang saking seringnya kita mendapat
informasi, susah sekali untuk membedakan mana informasi yang benar atau yang
salah.
Entah mengapa penyesatan tersebut terjadi berulang kali dan
terkadang betapa bodohnya kita untuk terus menerus salah untuk mempercayai
penyesatan tersebut. Tetapi pernahkah timbul dipikiranmu tentang, mengapa kita
bisa mendengar kebohongan seperti itu? Atau lebih mendalam lagi, mengapa
seseorang perlu untuk berbohong?
Ada suatu contoh seperti ini, seorang A yang demikian bebalnya untuk selalu
mengulang dan mengulang kesalahannya berpikir tentang hidup. A memiliki cara
pandang yang aneh dalam berpikir, sehingga teman-teman bahkan lingkungan
sosialnya cenderung tidak mempercayai A. Namun A sering sekali dengan
berapi-api untuk memaksakan cerita atau argumennya (yang sudah sering sekali
terbukti bohong) untuk didengar oleh orang lain. Bahkan A akan memaksa untuk
menyokong kebohongannya lebih lanjut dengan melampirkan referensi berita
(menurut dia) dari internet, entah sejatinya dari bermacam sumber atau hanya
tipuan dia untuk membohongi orang. Lain lagi ada B yang berusaha untuk terlihat
hebat, dengan berbual tentang ini dan itu. Saking seringnya membual sehingga
teman-temannya sudah tidak mempercayai lagi cerita yang keluar dari mulutnya.
Masih banyak lagi contoh orang-orang seperti itu dalam kehidupan
sosial kita, entah disadari atau tidak. Tetapi hal yang perlu disadari adalah mislead informasi menghasilkan dampak
yang mirip dengan racun berbahaya. Semua contoh orang yang terbiasa dengan
kebohongan seperti ini bisa dikelompokan sebagai orang-orang yang berusaha
untuk menampilkan ego-nya. Pengertian ego yang dimaksud disini adalah ego-nya Sigmund Freud yang berarti aktualisasi diri.
Pengulangan kebohongan dalam seseorang bisa disebabkan dari beberapa alasan. Ada tiga alasan utama mengapa orang bisa berbohong, pertama adalah mereka merasa berhasil dengan kebohongan mereka
untuk menampilkan diri dan diterima secara sosial. Kedua, mereka mempraktikkan
cara ini karena melihat contoh tokoh pembohong yang berhasil. Memang benar ada
beberapa contoh yang berhasil melakukan pembohongan hebat sehingga publik
mempercayai kebohongan tersebut. Biasanya tokoh seperti ini mempunyai citra
sebagai publik figur atau biasa disebut “artis”. Namun sayangnya seperti yang
dikatakan Paul Virilio di jaman dromologi
saat ini, informasi yang berkembang
demikian hebat sehingga manusia bisa mencari kebenaran lebih mudah dengan
bantuan teknologi. Sehingga sulit sekali
menjadi pembual yang sukses dijaman percepatan informasi seperti sekarang.
Yang terakhir adalah jenis orang yang tidak sadar bahwa
sebenar dia tidak menyadari pola berpikirnya adalah pembual, namun terus
menerus mengulang kebiasaan tersebut sekalipun sudah beberapa kali timbul
masalah dari kebiasaannya tersebut. Mungkin benar pepatah orang Sunda yang
mengatakan “can neungar cadas”, orang jenis ini belum mengalami mental breakdown yang demikian hebatnya
sehingga dia mulai merenungkan tindakannya selama ini.
Manusia pembohong adalah manusia insecure, sebenarnya mereka sedang berusaha menutupi dirinya dengan
kebohongan karena dia sadar bahwa dalam dirinya ada suatu kelemahan yang tidak
boleh terlihat orang. Kebohongan bisa menjadi wahana praktis untuk menutupi
kelemahan seseorang, semakin sering digunakan maka dia akan semakin terbiasa.
Padahal langkah awal untuk menghilangkan watak buruk seperti ini cukup jelas
dan mudah. Seseorang yang bisa menerima kondisi diri dan mengakuinya pada
publik adalah langkah awal yang harus diambil.
Betapa malasnya manusia yang terus menerus untuk selalu
mencari pembenaran dalam kebohongan. Padahal seharusnya manusia tidak boleh
hanya sekedar menerima. Karena dalam kondisi menerima saja, tentu orang tidak
akan berkembang. Menurut Bambang Sugiharto, dasar dalam berpikir sistematis
adalah kritik. Dengan mempertanyakan, maka kita menempatkan diri sebagai orang
yang tidak tahu. Dalam bertanya kita boleh memiliki argumen dan tentu lebih
bagus apabila argumen tersebut bukan pendapat subjektif, melainkan dari sumber referensi
yang baik. Pertanyaan yang efektif adalah pertanyaan yang tidak bersifat
retorika. Pertanyaan yang baik tidak memaksakan pendapat pribadi, namun bisa
mendengar, memahami dan memiliki empati dari lawan argumen.
Benar kata bijak dari Lee XiaoLong “untuk mengisi cangkir
adalah mengosongkan cangkir tersebut. Jadilah kosong untuk mendapatkan
totalitas.” Dalam pidatonya yang
terkenal tentang air dan bagaimana air mengalir dan kekuatan dalam kelembutan
terbukti dari pencapaiannya sebagai aktor bela diri paling inspirasional.
Manusia dengan keterbatasannya sering terhambat dari keberhasilannya. Orang
yang terlahir dengan kemudahan hidup akan susah untuk bergerak maju, demikian
juga orang yang puas dengan pencapaiannya. Sekiranya kita jangan terlalu lama
untuk berdiam di dalam suatu titik, tidak usah takut salah. Hidup harus terus
mengalir mengikuti bentuk atau menabrak layaknya musik Jazz yang enak didengar,
terencana dalam bentuk tertentu namun ringan terbawa arus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar